Jati Diri, Metamorfosa dan Mimpi yang Belum Usai - Kompas.com

Jati Diri, Metamorfosa dan Mimpi yang Belum Usai

Kompas.com - 18/11/2009, 18:42 WIB

Oleh Meicky Shoreamanis Panggabean*

Dreams from My Father:
Penerbit :Mizan
Edisi :Pertama
Tahun Terbit :Mei, 2009
Jumlah Halaman :650 (termasuk indeks/pengantar)
Berat Buku :780 gram
Kodefikasi :ISBN 978-9-794-33544-4
Kategori :Memoar dan Biografi :: Memoar

Saya kira anda harus mengatakan bahwa saya bukan seorang politikus ketika saya menulis Dreams from My Father. Saya ingin menunjukkan bagaimana dan mengapa anak-anak tertentu, terutama anak-anak kulit hitam, sampai menempuh risiko bahaya dan perusakan diri (The New Yorker, 31 Mei 2004).
                                                                     ***
Apa yang melintas di benak saat mendengar nama Barack Obama disebut? Ke dalam banyak kepala, nama ini membawa imaji sebuah stadium megah yang penuh sesak, pidato karismatis tentang perubahan, persaingan sengit namun elegan dengan Hillary Clinton, dan sebuah keluarga harmonis dengan istri yang menjadi ikon fashion. Dua dekade yang lampau, nama ini lekat dengan kisah-kisah penolakan, kebingungan, amarah, serta rasa sepi menusuk yang semuanya dituangkan tanpa kikuk dalam Dreams of My Father, buku yang Obama tulis jauh sebelum ia memiliki ambisi untuk meniti karir politik. Para kutu buku yang lelah membaca otobiografi, karena isinya kerap beraroma narsistik, akan tersenyum saat melihat betapa dengan jernih Obama menggunakan buku ini sebagai sebuah ekspresi keperdulian akan sesama dan sebagai suatu narasi panjang tentang jati diri yang terbelah serta pencarian identitas, bukan sebagai sarana pamer untuk meninggikan diri.

Bagaimanakah sesungguhnya asal-muasal sebuah hak ? Dari Atas, begitu tutur kaum beragama. Dari lahir, mungkin demikian tanggapan sebagian lainnya. Ahli sejarah dengan lantang menjawab yakin: Dari golongan yang menang.

Rumusan golongan intelektual ini menemukan relevansinya yang terdalam dalam pergulatan panjang Barack Obama yang dimulai saat ia berusia 9 tahun. Dengan pandangan nanar, ia menatap foto seraut wajah di sebuah majalah yang ia kira korban radiasi namun ternyata adalah gambar seorang pria kulit hitam yang gagal total dalam menjalani proses pemutihan kulit. Aku merasa wajah dan leherku memanas…Aku tak dapat bersuara karena ketakutanku, demikian Obama mengenang menit-menit ketika ia melihat foto tersebut (Hal.52) Dalam usia yang masih teramat muda, ia berkenalan dengan realita hubungan sahaya-baginda yang terbentang antara kaum kulit putih dan golongan kulit hitam. Peristiwa itu jugalah yang membuatnya tersadar bahwa iklan-iklan di negaranya melulu menjanjikan kebahagiaan hanya pada mereka yang berkulit putih.

Saat ia menginjak bangku SMA, sahabatnya Ray mengungkapkan sebuah pengertian yang lalu menjerat Obama masuk ke dalam rasa sepi yang menggigit: Kita selalu bermain di lapangan orang kulit putih dengan aturan main orang kulit putih (Hal.111). Di tengah-tengah kesendiriannya, ia mulai mencermati ketercabikan yang dialami kaumnya dan memikirkan hak yang tak pernah disematkan di dada golongan kulit hitam karena hak-hak tersebut adalah properti eksklusif mereka yang berkulit putih. Jenis manusia yang secara substansial sesungguhnya tak berbeda dengan diriku, demikian kira-kira pandangan Obama yang dibesarkan oleh orang tua yang mengajarkan bahwa manusia berlainan ras bisa hidup bersama dalam satu tempat tidur. Tak heran jika Obama pun resah, lantas remuk hati dan bahkan sempat hilang bentuk. Ia terus-menerus berusaha mengurai kekacauan yang disebabkan bukan oleh dirinya, kemudian letih karena selalu gagal dan akhirnya merasa terasing di tengah hiruk-pikuk apartemen kumuh tempat ia tinggal.

Berayahkan seorang pria Kenya dengan kulit gelap serta ibu kulit putih asal Amerika, Obama tahu bahwa ‘perkawinan antar ras’ adalah sebuah istilah berkonotasi negatif seperti halnya magnolia yang mati atau atap yang hendak ambruk (Hal.32) . Bagaimanapun, sebagai remaja ia berupaya keras untuk melangkah mondar-mandir menjembatani kedua ras tersebut, mencoba untuk mengerti bahwa dua dunia itu memiliki nilai-nilainya sendiri. Obama percaya bahwa kendati penuh dengan keberagaman, bumi adalah rumah yang sehat dan umat manusia adalah anggota keluarga yang ramah dan saling menghormati perbedaan yang mereka miliki. Perjumpaan sebulan dengan sang ayah saat ia berusia 10 tahun menariknya seperti pasir hisap ke dalam keyakinan bahwa dunia adalah suatu tempat yang nyaman walau penuh ketidaksempurnaan.

 Seiring dengan bergesernya waktu, Obama dengan cepat diam-diam mengakui bahwa akan ada kisah pencarian yang berliku dan berbatu-batu di balik namanya yang aneh (kerap dieja Alabama) dan di balik ketidakhadiran sang ayah. “Jati diriku terbentuk karena ketidakhadiran ayah, bukan oleh kehadirannya”, demikian Obama suatu kali pernah bertutur. Konstelasi sosial politik yang masih rasis menggoncangkan dunia kecilnya yang nyaman:Sebuah kenyataan yang secara perlahan membuatnya resah karena yakin bahwa warna kulitnya adalah sebuah kesalahan. Perlakuan masyarakat yang ia terima, perenungan kritis-reflektif yang ia lakukan, menunjukkan bahwa optimisme bukanlah reaksi tepat yang harus ia ambil untuk menyikapi keresahan serta konflik identitas tersebut.

Buku yang versi audionya memenangkan Grammy Award di tahun 2006 ini dengan detil mendeskripsikan keterpurukan serta kemarahan Obama dalam menghadapi jati diri terbelah serta dunia yang tak ramah. Tulisan ini juga tak lupa berkisah mengenai terjeratnya Obama dalam obat-obatan terlarang dan rasa amarah yang berubah wujud secara perlahan menjadi serentetan upaya pemberdayaan kaumnya di Chicago. Dibuat pertama kali ketika Obama berusia 33 tahun, sesaat setelah menjadi orang kulit hitam pertama yang menjabat sebagai presiden Harvard Law Review, buku ini dihadiahi pujian oleh peraih Nobel Sastra 1993 yaitu Toni Morrison serta kolumnis veteran asal majalah Time, Joe Klein. Kepiawaian Obama dalam menata kata membuat buku ini dengan mudah berhasil menyeret kita masuk ke dalam hidupnya yang kerap berpindah tempat dan emosinya yang penuh ragam.

Bersama Obama kita akan susuri Jakarta, Hawaii, Los Angeles, New York dan tentu saja Chicago, tempat rasa frustasinya bermetamorfosa menjadi serangkaian kiprah sosial. Dengan ramah ia memperkenalkan kita pada ibunya, ayah tiri, serta segenap saudaranya yang terpencar baik di Amerika Serikat maupun Afrika. Kita diajak juga untuk menyusuri lekuk-lekuk batinnya:Mencicipi kepahitan hati seorang anak kecil yang berkembang menjadi depresi saat ia menginjak masa remaja dan ikut merasakan betapa terjalnya jalan yang ia tempuh untuk membantu kaumnya meraih hak-hak hidup yang paling dasar. Kita juga akan diseret untuk turut menghayati pergulatannya tentang kelas dan rasisme serta diberi kesempatan untuk berpetualang dengannya ke Kenya, tempat ia menelusuri akar keberadaannya. Terkadang mungkin kita akan letih saat mengikuti beberapa perenungannya yang terlalu panjang namun bagaimanapun, petualangan intelektual ini ditutup secara manis dengan ajakan untuk meneguk segelas fruit punch di akhir cerita.

Buku bercita rasa sastrawi yang tinggi ini diedit ulang oleh Obama dalam kesunyian bersama istrinya, Michelle, di Pulau Dewata. Menarik untuk melihat betapa rasa terima kasih dan kekaguman Obama yang megah terhadap ibunya, Ann Dunham, tak cukup untuk membuat nama sang ibu tertera dengan anggun di sampul buku. Obama justru memasukkan kata father ke dalam judul:Sosok yang telah memporakporandakan kebahagiaan keluarga besar dan ia kenal hanya sebagai figur yang mirip mitos.

Dengan jenial, melalui judul inilah Obama memberi petunjuk. Sesungguhnyalah jalan panjang penemuan identitas diri yang ia lalui sebagai mulato-anak hasil pernikahan kulit putih dan hitam-lebih menuntutnya untuk menguliti sejarah kulit hitamnya dan bukan lapisan kulit putihnya. Terlebih lagi, berita tentang kematian sang ayah inilah yang menjadi awal dari keterusikan Obama akan eksistensi dan asal-muasalnya. Sosok bertubuh besar inilah yang menjadi titik keberangkatan Obama dalam menyusuri cerita panjang yang penuh rasa sakit tentang kebencian, keterasingan serta asal-usul.

Dan di titik terakhir kita tahu betul bahwa Presiden Amerika ke-44 ini, kendati impiannya yang ia uraikan di beberapa bagian buku belum sepenuhnya tercapai, sudah pantas dianugerahi gelar doktor dalam bidang pencarian jati diri. (*Meicky Shoreamanis Panggabean, Guru SMP/SMA Pelita Harapan Lippo-Cikarang)

Editorjodhi

Terkini Lainnya

Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM