JAKARTA, Kompas.com - Pada awal musim 2009, Yamaha mendominasi balapan MotoGP. Tetapi mulai pertengahan musim, performa pabrikan Jepang ini sedikit menurun sehingga bisa dikalahkan oleh Repsol Honda dan Ducati. Apa yang menjadi penyebab anjloknya Yamaha?
Valentino Rossi punya jawabannya. Pebalap Italia yang sukses mempertahankan gelar juara dunia MotoGP setelah tiga pekan lalu finis di posisi ketiga GP Malaysia, mengatakan, perubahan regulasi mesin yang mulai diterapkan sejak pertengahan musim, menjadi penyebab. Hal itu (perubahan regulasi) memberikan efek yang sangat besar bagi Yamaha, dibandingkan dengan Honda dan Ducati.
Ya, mulai seri ke-11 di Brno, Republik Ceko, semua tim tak bisa seenaknya menggunakan mesin yang dimiliki. Di sisa tujuh seri yang ada, para pebalap hanya boleh menggunakan tujuh mesin--ini termasuk langkah efisiensi yang diwajibkan oleh Federasi Motor Internasional (FIM).
"Sejak Brno, kami mulai mengalami banyak kesulitan," ungkap Rossi. "Sebelumnya, motor kami sangat seimbang, dan juga sangat cepat di lintasan lurus. Tetapi dari Brno, motor kami memang masih seimbang, tetapi kami kehilangan enam atau tujuh kilometer per jam, dibandingkan dengan Ducati dan Honda," tambah juara dunia tujuh kali di kelas premier ini.
"Kami termasuk salah satu tim yang tidak bisa mengambil manfaat dari itu (perubahan regulasi). Sejak Brno, kami jarang meraih kemenangan. Kami sadar apa yang harus menjadi fokus untuk tahun depan, ketika kami tidak bisa menggunakan banyak mesin lagi."
"The Doctor" juga mengakui, mungkin karena perubahan regulasi ini sehingga perjalanannya menuju tangga juara dunia 2009 menjadi sangat berat, bahkan yang terberat sepanjang kariernya. Bagaimana tidak, pebalap Italia harus menghadapi tekanan dari rekan setimnya sendiri, Jorge Lorenzo, juga jagoan Honda Dani Pedrosa dan pebalap nomor satu Ducati, Casey Stoner.
"Pada akhirnya, saya menang 'hanya' enam seri. Dan, empat kali di antaranya, kami keluar sebagai pemenang," tambah Rossi.
"Tetapi saya menang enam seri--lebih banyak dari yang lain--, dan tujuh kali meraih pole--juga lebih banyak dari yang lain. Karenanya, ini merupakan musim yang hebat dan kami pulang ke rumah dengan hasil yang menggembirakan," simpul pebalap berusia 30 tahun ini.

Redknapp Tak Akan Abaikan "The Three Lions"
Harry Redknapp mengaku akan mempertimbangkan tawaran melatih tim nasional Inggris, jika FA menawarkan posisi itu kepadanya.

