KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Senyum Aravane Rezai dan Kegarangan di Lapangan
Laporan wartawan KOMPAS.com Laksono Hari Wiwoho
Senin, 9 November 2009 | 10:06 WIB
Kompas/Agus Susanto
Petenis Perancis, Aravane Rezai bersiap membagikan bola yang sudah ditandatanganinya usai mengalahkan petenis Spanyol, Maria Jose Martinez Sanchez dalam semifinal Commonwealth Bank Tournament of Champions di BICC, Nusa Dua, Bali, Sabtu (7/11). Rezai menang 6-2, 6-3 dan akan berhadapan dengan petenis Perancis, Marion Bartoli dalam partai final.
TERKAIT:

NUSA DUA, KOMPAS.com — Selama delapan hari berada di Bali, wajah Aravane Rezai selalu ceria. Senyum yang tak pernah lepas membuat semua orang terpesona. Namun, jangan tanya soal penampilannya di lapangan tenis. Petenis putri Perancis itu akan berubah menjadi petarung garang yang membahayakan lawan.

"Yeah! Come on!" Begitulah teriak pemain 22 tahun itu setiap kali meraih poin melalui suatu perlawanan alot. Wajahnya yang cantik berubah menjadi sangar, seolah menunjukkan ancaman kepada lawan-lawannya. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang dalam empat pertandingan yang ia jalani sejak penyisihan grup hingga final Commonwealth Bank Tournament of Champions (CBTC) di Nusa Dua, Bali, 4-8 November 2009.

Sambil sesekali mengepalkan tangan kiri di depan dada, petenis dengan postur setinggi 165 cm itu ingin menunjukkan kepada lawan bahwa ia bukan petenis yang mudah dikalahkan dan tak gampang menyerah. "Saya agresif, saya suka menyerang, tapi saya juga sangat tenang dan sabar. Saya juga keras kepala, tidak bisa menerima jika hasilnya tidak semaksimal mungkin," ungkap Rezai dalam newsletter terbitan Sony Ericsson WTA Tour pada 2006.

Sulit membayangkan reaksi wanita penyayang burung kakatua dan penyuka astronomi itu jika tak melihatnya langsung di lapangan. Ketika ditanya soal hubungannya dengan teman laki-laki, pemain keturunan Iran-Perancis ini hanya menjawab samar-samar. "Saya seorang Muslimah, jadi saya tak terlalu memikirkan itu," katanya sambil tersenyum malu-malu. "Tapi ya, yang terpenting bagi saya adalah menjadi seorang wanita."

Karena alasan itulah, setiap kali Rezai pergi mengikuti turnamen, ia hanya ditemani ayah, ibu, dan pelatihnya. Dari ayahnya pula, Rezai belajar tenis setelah melihat kakak laki-lakinya, Arnauch, bermain di bawah asuhan sang ayah, Arsalan, seorang mekanik mobil.

Waktu itu Rezai masih berusia enam tahun dan belum diperkenankan mengayun raket sehingga ia mulai belajar tenis dengan memunguti bola saat kakaknya berlatih. Rezai kecil baru belajar memukul bola pada usia tujuh tahun. Setelah Rezai mengalahkan anak-anak yang lebih tua darinya, Arsalan melihat potensi besar dari putri keduanya tersebut dan melatihnya.

Setelah sepuluh tahun menekuni tenis, Rezai mulai masuk ke kancah profesional. Pada akhir 2005, ia hanya menduduki ranking ke-189. Setahun kemudian, peringkatnya melonjak hingga posisi ke-49. Kenaikan pesat ini antara lain berkat dua kemenangan di turnamen ITF, lolos ke putaran ketiga di Roland Garros, dan babak keempat AS Terbuka. Peringkatnya sempat melorot pada 2007 dan 2008, tetapi kembali merangkak pada tahun ini.

Selain dilatih oleh ayah dan kakaknya, selama dua tahun terakhir Rezai pun ditatar oleh pelatih Perancis, Patrick Mouratoglou. Di tangan Mouratoglou, Rezai semakin menemukan gaya permainan ngotot dan berbuah manis saat ia menjadi juara seri internasional di Strasbourg pada Mei lalu. Prestasi inilah yang mengantarnya masuk daftar peserta CBTC di Bali, yang kini berubah format dan menjadi turnamen tutup tahun dalam tur WTA.

Perjuangan Rezai pada penyisihan grup di Bali tidaklah mudah. Di Grup D, ia menjadi petenis berperingkat paling rendah, di bawah unggulan keempat, Sabine Lisicki dan petenis Hongaria Melinda Czink. Melawan Lisicki, ia sempat kalah 1-6 di set pertama meski akhirnya menang tiga set. Rezai juga sempat tertinggal 1-5 di set kedua lawan Czink, tetapi berbalik unggul dan menang straight set 6-3, 7-5.

Di semifinal, ia tampil mengesankan dan menyingkirkan petenis Spanyol, Maria Jose Martinez Sanchez, yang sebelumnya menjegal unggulan kedua Samantha Stosur. Pertarungan alot kembali terjadi di final melawan Marion Bartoli. Saat itu, Bartoli sempat memimpin 5-3 dan memegang satu kesempatan match point. Rezai lagi-lagi menunjukkan bahwa ia adalah petarung yang tak mudah menyerah. Bermain tanpa beban, ia terus memaksa reli-reli panjang terhadap rekannya sesama petenis Perancis tersebut. Rezai akhirnya berbalik unggul 6-5 dan menggenggam dua kali break point di game terakhir. Di saat itulah Bartoli mengalami cedera, sebelum menyatakan mundur setelah menyerah 5-7 di set pertama.

"Saya terus memukul bola dengan sangat agresif demi merebut setiap poin. Saya ingin menang, tapi juga tak mau terbebani. Kalaupun kalah, masih ada set kedua," ujar Rezai.

Dengan kemenangan ini, Rezai berhak mendapatkan tambahan 600 poin yang akan mendongkrak rangkingnya hingga akhir tahun ini. Jika sebelumnya ia berperingkat 44 WTA, maka posisinya pada pekan depan diperkirakan naik ke urutan ke-25. Seusai bertanding di Bali, Rezai akan mulai fokus ke turnamen awal tahun depan demi mengejar targetnya menjadi petenis putri nomor satu dunia. Harapan lainnya adalah belajar ilmu perbintangan jika kariernya di dunia tenis sudah tamat.

Editor: wsn Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.