ESTORIL, KOMPAS.com - Valentino Rossi mengaku terkejut dengan performa motornya saat tampil di GP Portugal, Minggu (4/10). Dalam duel di Sirkuit Estroril tersebut, Yamaha M1-nya nyaris tak berdaya melawan motor serupa milik rekan setimnya, Jorge Lorenzo yang menjadi juara, serta dua rivalnya yang lain, yaitu pebalap Ducati Casey Stoner, serta jagoan Repsol Honda Dani Pedrosa.
Alhasil, "The Doctor" yang start dari posisi dua hanya mampu finis di urutan empat. Pebalap berusia 30 tahun ini bahkan tertinggal cukup jauh, karena terpaut 23 detik dari Lorenzo yang kini membuka kembali peluang menjadi juara. Sedangkan dengan Pedrosa yang finis di depannya, Rossi tertinggal 14 detik.
Rossi mengakui, motornya kehilangan grip belakang. Itu yang menjadi persoalan utama sehingga dia sama sekali tidak bisa bersaing dengan tiga rival di depannya tersebut.
"Saya pikir, saya bisa bersaing dengan Stoner dan Pedrosa. Tetapi saat balapan, mereka selangkah lebih maju dan saya tak mampu berbuat apa-apa," ungkap Rossi kepada televisi Italia1.
"Saya tidak pernah bisa kencang karena saya tidak punya grip belakang yang bagus. Setelah tujuh atau delapan lap, saya mulai merasa kesulitan dan secara konstan kehilangan banyak waktu sejak lap pembuka. Di seri ini kami benar-benar tidak kompetitif."
Dengan hasil ini di mana Lorenzo menjadi juara dan Rossi hanya finis di urutan empat, maka persaingan antara sesama pebalap Fiat Yamaha ini untuk memperebutkan gelar juara dunia semakin seru. Pasalnya, Rossi yang kini masih memimpin klasemen sementara dengan total 250 angka hanya unggul 18 poin dari pebalap Spanyol tersebut.
Namun Rossi yang di Portugal ini untuk ke-100 kalinya membalap bagi Yamaha, tak panik. Juara dunia enam kali kelas premier ini siap bangkit agar lebih baik lagi di tiga seri tersisa, sehingga bisa mempertahankan gelar juaranya.
"Memang kami tidak bisa bersaing, tetapi paling kurang saya tidak kecelakaan seperti di Indianapolis. Sekarang, masih ada tiga balapan lagi yang tersisa di sirkuit-sirkuit yang bagus. Saya harus berpikir balapan demi balapan, dan pergi ke Phillip Island, yang selalu menjadi trek bagus, melihat apa persoalan kami hari ini dan berusaha menjadi lebih baik lagi," tegasnya.

Capello: Saya Mundur Karena Kesalahpahaman
Fabio Capello membantah bahwa keputusannya mundur dari jabatan manajer timnas Inggris sebagai bentuk melarikan diri dari tekanan.

