JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Michael Schumacher yang membatalkan niatnya untuk kembali ke balapan Formula 1 (F1) mendapat tanggapan positif dari Alain Prost. Menurut mantan juara dunia tersebut, Schumi--sapaan Schumacher--telah mengambil langkah yang tepat mengingat cedera lehernya masih mengganggu.
Sebenarnya, Ferrari telah merestui keinginan Schumi untuk menggantikan posisi Felipe Massa yang sedang dalam proses pemulihan cedera pasca-kecelakaan dasyat di Q2 GP Hungaria 25 Juli lalu. Tetapi setelah melakukan uji coba dengan Ferrari 2007, Schumi merasa kondisinya belum fit. Lehernya masih sakit, sehingga dia tak mungkin tampil di GP Eropa pada 23 Agustus mendatang.
Prost yang empat kali menjadi juara dunia F1 antara 1985 dan 1993, memahami keputusan Schumi. Menurut pria berusia 54 tahun tersebut, Schumi memerlukan waktu yang lebih lama lagi jika ingin melakukan debutnya di F1 setelah pensiun akhir musim 2006.
"Michael dan saya memutuskan untuk gantung helm (pensiun,red) dengan alasan yang berbeda. Tetapi ketika kamu merasa masih kompetitif dan tergoda untuk kembali, maka itu adalah hal yang hebat," ungkap Prost kepada suratkabar Perancis Le Parisien.
"Tetapi jika ada risiko fisik, maka Schumacher benar. Leher adalah hal yang krusial di motorsport dan jika terasa sakit, maka kamu akan cepat merasa pusing dan daya penglihatan menjadi lemah," tambah Prost yang sepanjang karier pernah membela McLaren, Renault, Ferrari, dan Williams.
Meskipun memahami, tetapi Prost juga mempertanyakan keputusan mendadak Schumi. Menurutnya, apakah pebalap Jerman ini benar-benar mengalami gangguan kesehatan, atau karena dia merasa memiliki beban yang berat setelah melakukan tes.
"Dia telah berhenti dari F1 selama tiga tahun dan hanya memiliki waktu tiga pekan untuk persiapan. Perubahan badan sangat cepat ketika kamu berhenti membalap, karena reaksi dan daya lihat seorang pebalap pasti tidak setajam dulu. Ketika saya kembali membalap tahun 1993 setelah istirahat delapan bulan, saya merasa sangat sulit mencapai level terbaik. Schumacher juga mungkin perlu lebih banyak waktu.
"Tahun 1994, McLaren meminta saya untuk kembali. Saya melakukan tes selama tiga hari dan saya merasa ada sesuatu yang berubah. Kecepatan tak masalah, tetapi tidak dengan kemampuan mengatasi tekanan, perjalanan dan media.
"Setahun kemudian, Jean Todt menganjurkan agar saya menjadi rekan setim Schumacher, untuk membantunya menjadi juara di Ferrari. Sudah pasti saya menjadi pebalap nomor dua, dan saya menyanggupinya. Tetapi, saya membatalkan lagi rencana itu dengan alasan yang sama."

Capello: Saya Mundur Karena Kesalahpahaman
Fabio Capello membantah bahwa keputusannya mundur dari jabatan manajer timnas Inggris sebagai bentuk melarikan diri dari tekanan.

