JAKARTA, KOMPAS.com — Cedera bahu dan engkel Jorge Lorenzo akibat kecelakaan saat melakoni babak kualifikasi di Laguna Seca pekan lalu, sudah diketahui secara pasti. Ini berkat tes medis yang dilakukan di Barcelona, Kamis (9/7).
Hasil diagnosa yang dilakukan di Clinica Mobile menunjukkan, pebalap Spanyol tersebut mengalami acromial clavicular separation pada tulang selangka sebelah kanan, plus ada satu tulang yang patah pada kaki kanannya. Ini terjadi karena, saat jatuh, bahu kanannya terbentur dengan keras sebelum terseret ke gravel.
Ya, saat kualifikasi GP Amerika Serikat, Lorenzo, yang menggeber motor M1-nya, memang berhasil mencatat waktu tercepat sehingga berhak menempati pole. Namun, untuk mencapai hasil tersebut, mantan juara dunia kelas 250cc itu harus membayarnya dengan mahal karena sempat jatuh dan cedera.
Ini yang membuat performanya kurang bagus saat balapan. Meskipun berhasil mengatasi rasa sakit, dia gagal meraih hasil seperti yang diinginkan karena hanya finis di urutan tiga, di belakang pebalap Repsol Honda Dani Pedrosa, yang menjadi juara, serta rekan setimnya di Fiat Yamaha, Valentino Rossi.
Meskipun demikian, hasil tersebut cukup menggembirakan. Pasalnya, saat start, Lorenzo sempat tercecer ke posisi delapan, sebelum merangkak lagi ke barisan depan. Bahkan, Lorenzo yang sudah dua kali menjadi juara pada musim ini, mampu menempel Rossi, meskipun tertinggal lagi dengan selisih waktu 1,582 detik dan terpaut 1,926 detik dari Pedrosa, saat finis.
Dengan hasil tersebut, Lorenzo berada di urutan dua klasemen sementara pebalap. Dia hanya terpaut sembilan poin dari Rossi, setelah mereka melakoni delapan dari 17 seri musim ini.
Balapan berikutnya terjadi pekan depan, 19 Juli, di Jerman, disusul GP Inggris di Donington Park pada 26 Juli. Setelah itu, para pebalap punya kesempatan beristirahat sebelum memulai paruh kedua MotoGP di Brno, Republik Ceska, pada 16 Agustus. Di sinilah waktu yang cukup panjang bagi Lorenzo untuk memulihkan cederanya tersebut. (CRS)

Capello: Saya Mundur Karena Kesalahpahaman
Fabio Capello membantah bahwa keputusannya mundur dari jabatan manajer timnas Inggris sebagai bentuk melarikan diri dari tekanan.

