BEIJING, KOMPAS.com — Setidaknya 55 warga negara Indonesia (WNI) di China telah dikarantina oleh pemerintah China, terkait dengan makin merebaknya flu A-H1N1 di negara itu. Meski demikian, tak seorang pun dari mereka yang positif mengidap flu babi atau meninggal. Mereka hanya terduga.
Demikian dikatakan Dubes RI untuk China, Sudrajat, di Beijing, Senin (6/7), menanggapi adanya sejumlah WNI yang telah dikarantina pihak berwenang China. Dubes dalam pernyataan itu didampingi oleh Kepala Fungsi Pelaksana Protokol Konsuler KBRI Beijing Krishna Adi Poetranto dan Kepala Fungsi Pelaksanaan Sosial Budaya KBRI Beijing Rosmalawati Chalid.
Jumlah sebanyak itu tersebar di Beijing sebanyak 17 orang, Shanghai 32 orang, dan Hangzhou provinsi Zhejiang enam orang. Jumlah itu tidak termasuk yang berada di wilayah kerja Hongkong dan provinsi Guangdong.
Menurut Dubes, saat ini sudah ada beberapa WNI yang keluar dari lokasi karantina, tetapi ada juga yang masih dalam suatu ruangan isolasi. Namun, setelah diperiksa medis lebih lanjut dilaporkan tidak ada yang tertular atau memiliki gejala flu H1N1.
Sudrajat menjelaskan, seluruh warga Indonesia yang dikarantina tersebut adalah pendatang yang berkunjung ke China, yang ketika di dalam pesawat terdapat salah satu penumpang yang mengidap flu mematikan itu.
Sesuai prosedur yang diterapkan pemerintah China, jika dalam satu pesawat terdapat penderita maka seluruh penumpang harus menjalani karantina di suatu tempat, termasuk di antaranya beberapa penumpang yang berasal dari Indonesia.
Ketika dikarantina, warga Indonesia termasuk warga negara lain tidak diperkenankan melakukan kontak fisik atau langsung dengan siapa pun termasuk dengan staf KBRI Beijing yang berupaya untuk menemui mereka.
Ditegaskan pula bahwa prosedur karantina tersebut berlaku bagi siapa pun dari warga negara mana pun yang baru datang ke China jika terdapat penumpang yang alami gejala flu H1N1. "Tidak peduli apakah salah satu penumpang itu ada menteri atau pejabat tinggi lainnya. Mereka semua harus masuk karantina, walaupun memang perlakuannya karantina berbeda," katanya.

Capello: Saya Mundur Karena Kesalahpahaman
Fabio Capello membantah bahwa keputusannya mundur dari jabatan manajer timnas Inggris sebagai bentuk melarikan diri dari tekanan.

