Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 20:00 WIB
Safina: Ekspektasi Berlebihan Bikin Saya Gagal Lagi
Aloysius Gonsaga AE | Minggu, 7 Juni 2009 | 06:50 WIB
|
Share:

PARIS, KOMPAS.com — Dinara Safina mengakui, ekspektasi yang berlebih membuat dia gagal mewujudkan impiannya meraih gelar pertama grand slam. Petenis Rusia ini kembali memiliki kesempatan ketiga ketika maju ke final Perancis Terbuka, Sabtu (6/6), tetapi dia kalah lagi.

Melawan rekan senegaranya, Svetlana Kuznetsova, Safina yang merupakan unggulan utama menyerah dua game langsung. Setelah kalah 4-6 di set pertama, dia menyerah dengan skor yang lebih jelek lagi, yakni 2-6, pada set kedua, dari unggulan tujuh tersebut.

Menurut petenis berusia 23 tahun tersebut, ambisi yang berlebihan jadi penyebab kegagalannya tersebut. Jadi, performanya sangat terganggu.

"Tekanan yang saya buat sendiri menjadi penyebab (kalah). Ini terjadi karena saya benar-benar ingin menang," ungkap pemain nomor satu dunia tersebut.

"Saya jadi tak bisa mengatasi keadaan. Di lapangan, saya menjadi sedikit putus asa, sehingga tidak bisa melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Mental saya pun menjadi lemah. Saya kalah karena diri sendiri," tambah Safina yang sempat menitikkan air mata setelah kalah.

Ya, adik kandung mantan petenis putra nomor satu dunia Marat Safin ini pantas kecewa. Pasalnya, dia sudah tiga kali menembus final grand slam, tetapi tak satu pun gelar yang berhasil disabetnya.

Di Perancis Terbuka, dia sudah dua kali menjadi finalis setelah tahun lalu juga tampil di partai puncak. Waktu itu, Safina yang menjadi unggulan 13 berhasil mengatasi tekanan di babak-babak sebelumnya karena ada dua pertandingan dia bisa lolos dari match point.

Sayang, performanya menurun saat bermain di final melawan Ana Ivanovic. Alhasil, Safina pun menyerah dari petenis cantik asal Serbia tersebut.

Tahun ini, Safina yang mulai terlihat lebih dewasa karena bisa mengatasi emosinya yang kerab meledak-ledak menjadi favorit juara. Apalagi sepanjang musim ini—hingga menjelang partai final—dia hanya satu kali kalah di lapangan tanah liat.

Namun, kenyataannya berbicara lain. Meskipun sempat melakukan break di game pertama, penampilan Safina tak kunjung membaik sehingga Kuznetsova dengan cukup mudah mengalahkannya untuk meraih gelar kedua grand slam, setelah menjadi juara Amerika Serikat Terbuka 2004.

Ketika ditanya pelajaran apa yang dipetik dari kekalahan ketiganya di final grand slam ini, Safina dengan suara lebih lantang mengatakan: "Jangan memberikan tekanan kepada diri sendiri."

Meskipun untuk kedua kalinya gagal di final grand slam tahun ini—setelah kalah dari Serena Williams di Australia Terbuka, Safina akan tetap menjadi pemain nomor satu dunia sampai Wimbledon. Hanya saja, statusnya tak berubah karena dia kembali gagal menjadi juara di turnamen paling bergengsi itu.

Ya, Serena Williams yang sudah 10 kali menyabet trofi grand slam pernah "merendahkan" status Safina. Menurut petenis Amerika Serikat itu, Safina tak layak jadi pemain nomor satu karena belum pernah juara grand slam sehingga dirinya yang patut mendudukinya (peringkat 1).

Nah, sebelum partai final itu Safina pun mengatakan bahwa kali ini dia punya kesempatan untuk membuktikannya. "Berapa banyak bukti yang saya perlukan untuk meyakinkan orang bahwa saya layak jadi nomor satu?"

Tapi setelah gagal, Safina pun mengaku sangat kecewa. "Saya hanya menginginkan kemenangan, tapi gagal mewujudkannya. Sekarang, saya hanya menuai kekecewaan."

Well, Safina harus segera melupakan kegagalan kali ini. Dia harus segera menatap grand slam selanjutnya, yakni Wimbledon, yang mulai bergulir 23 Juni-5 Juli mendatang.

Sumber :
RTR

Skuad Inggris Diumumkan Tanpa Nama Ferdinand

Manajer tim nasional Inggris, Roy Hodgson akhirnya mengumumkan nama-nama pemain yang akan dibawanya ke Piala Eropa 2012.

SEE MORE